HARAPAN DAN TANTANGAN PERPUSTAKAAN DESA

ASSALAMUA'LAIKUM

selamat datang kembali ke blog saya dan terimakasih karena selama ini masih setia melihat maupun membaca isi dari blog saya saya doakan kalian mudah rezeki dan di permudah segala urusannya..

okee, kali ini saya akan membahas tentang harapan dan tantangan yang harus di hadapi perpustakaan desa.

HARAPAN :

Perpustakaan Desa/Kelurahan yang baru didirikan diharapkan mempunyai koleksi dasar sekurang-kurangnya 1000 judul (2500 eksemplar). Adapun komposisi jenis koleksi yang dimiliki Perpustakaan Desa/Kelurahan seyogyanya adalah dengan perbandingan non fiksi 60% dan fisik 40%. Dengan prosentase non fiksi lebih besar. Dimaksudkan agar masyarakat pemakai (pedesaan) dapat memperluas pengetahuan umum dan keterampilan yang diperlukan dalam kegiatan sehari-hari. Upayakan ilmu pengetahuan praktis 60 – 70% dari total buku-buku non fiksi. Perhatikan dan utamakan buku-buku yang dapat menunjang pekerjaan pokok masyarakat setempat sehingga dengan berpedoman pada buku-buku praktis tersebut penghasilannya dapat bertambah. Sedangkan untuk menggairahkan minat baca masyarakat dan sekaligus sebagai sarana rekreasi. Maka Perpustakaan Desa/Kelurahan diharapkan dilengkapi dengan koleksi buku fiksi (buku cerita) yang seyogyanya dapat membuka wawasan dan memperhalus budi pekerti seperti; buku cerita, buku ilmu pengetahuan populer, buku-buku sejarah, kisah-kisah nabi dan lain-lain.

Dalam pengadaan koleksi harus memperhatikan kebutuhan masyarakat pemakai jasa perpustakaan serta tujuan dan misi yang diemban perpustakaan. Perpustakaan Desa/Kelurahan melayani segala lapisan dan golongan masyarakat yang beraneka ragam. Oleh karena itu pengadaan koleksi harus memperhatikan keanekaragaman tersebut (politik, social, budaya dan keamanan setempat).

Era globalisasi telah memaksa setiap bangsa untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Di sini, pendidikan memegang peranan penting. Namun sayngnya, seperti yang kita lihat sekarang ini, sistem pendidikan di Indonesia ternyata belum mampu mengatasi masalah tersebut. Pendidikan dinilai masih berpihak pada kaum kapitalis dan golongan ekonomi menengah ke atas. Salah satu program untuk mengatasi masalah tersebut yaitu melalui bagian dari pendidikan laur sekolah, yaitu perpustakaan.

Secara umum, perpustakaan mempunyai peranan yang sangat vital bagi peningkatan kualitas sumber data manusia. Pertama, sebagai jantung pendidikan dan ilmu pengetahuan. Kedua, sebagai pusat pengumpulan dan penyimpanan sumber pengetahuan dan informasi. Ketiga, sebagai social center, yaitu pusat kegiatan masyarakat setempat.

Berdasarkan hal itulah, maka keberadaan perpustakaan mutlak diperlukan. Namun disatu sisi, tidak hanya keberadaan letak perpustakaan yang mempengaruhi kualitas pendidikan nasional, minat baca masyarakat yang masih rendah juga ikut berpengaruh. Hal ini salah satunya disebabkan oleh kurangnya daya tarik masyarakat terhadap perpustakaan sehingga kurangnya minat baca itu akan muncul dan merebak menjangkiti masyarakat. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka penulis memberikan alternative solusi yaitu dengan model perpustakaan yang lain dari biasanya yaitu perpustakaan alam yang unik sebagai daya tarik kecintaan masyarakat terhadap perpustakaan.

Sebagai salah satu pilar pendukung kesuksesan belajar, perpustakaan seharusnya mampu menyediakan tempat yang nyaman, suasana yang menyenangkan bagi pengunjung, bahkan untuk selanjunya, suasana yang menyenangkan ini dapat menarik minat orang-orang yang ada awalnya enggan datang ke perpustakaan menjadi suka datang ke perpustakaan. Jadi, sebagai langkah awal, perpustakaan harus mampu menyodorkan daya tarik bagi pengunjung terlebih dahulu.

Pertama, hal yang harus dibenahi adalah pencahayaan yang cukup untuk mendukung kegiatan membaca. Sumber cahaya dapat berasal dari cahaya magtahari maupun lampu. Cahaya di dalam ruangan ini kemudian akan berbaur dengan warna dinding runagn dan tata letak yang enak dan nyaman dipandang. Warna dinding yang teduh, nyaman, dan sejuk akan membuat setiap ingin datang lagi ke perpustakaan. Begitu pula tata letak meja, rak buku, arah pintu, tempat peminjaman buku yang mudah dijangkau akan membuat pengunjung semakin nyaman.

Kedua, faktor kebersihan lingkungan perpustakaan juga menjadi faktor yang cukup menentukan. Kebersihan lingkungan disini meliputi kebersihan outdoor (di luar ruang) dan kebersihan indoor (di dalam ruangan). Keberhasilan untuk lingkungan di luar perpustakaan dapat dilihat dari bagian gedung/bangunan luar dan jalan menuju ke perpustakaan (apakah mudah dijangkau atau sulit dijangkau, apakah letaknya strategis atau tersembunyi). Sebagai daya tarik, penempatan tanaman hias yang sesuai baik di luar maupun di dalam ruangan juga dapat menpengaruhi kenyamanan suasana di perpustakaan. Selain kebersihan di luar ruangan, kebersihan di dalam ruangan juga tidak kalah pentingnya, karena di ruangan inilah pengunjung akan bertahan lebih lama. Salah satu faktor penghambat kebersihan dalam sebuah ruangan adalah debu, baik debu-debu yang berada di lantai, meja, dan kursi, maupun debu-debu yang menempel di buku-buku koleksi. Bila faktor kebersihan yang disebabkan oleh debu ini kurang tertangani dengan baik akan menjadi kendala yang cukup menganggu, karena beberapa pengnjung yang alergi terhadap debu dapat menjadi kurang nyaman berada di perpustakaan ketika dia sedang mencari dan membolak-balik buku koleksi.

Perpustakaan desa yang berdaya guna, artinya bermanfaat bagi kedua belah pihak, yaitu pengelola atau penyelenggara dalam bentuk layanan public. Sementera bagi masyarakat pemakai, adalah sebagai fasilitas umum yang mereka perlukan. Suatu bagian dari peningkatan kesejahteraan lahir dan batin. Kedua hal itu mestinya diupayakan secara maksimal, baik dari sudut pandang nilai guna, ekonomis, maupun edukatif.

Pengelolaan perpustakaan desa dengan segala aspeknya mencakup pula pemberdayaan secara efektif dan efisien atau berdaya guna dan berhasil guna. Pemberdayaan yang dilakukan oleh pengelola adalah menyediakan, menyajikan dan melayankan. Sementara pemberdayaan oleh pemakai (pemustaka dan masyarakat) adalah pemanfaatan yang dapat memberikan banyak kegunaan dan nilai tambah. Artinya, keberadaan dan eksistensi perpustakaan desa benar-benar dirasakan oleh masyarakat di sekitarnya. Cirri-ciri atau tanda bahwa perpustakaan bermanfaat antara lain: banyak aktivitas yang dilaksanakan di perpustakaan, ramai penunjang dan tamu, banyak membaca, banyak transaksi informasi. oleh karena itu sebuah perpustakaan yang paling baik dalam arti nilai dan makna adalah banyak dimanfaatkan orang. Jadi, tampilan fisik gedung dan fasilitas saja belum cukup. Representasi dan kelengkapan koleksi bahan pustaka merupakan salah satu kunci sebagai daya tarik dan kekuatan layanan perpustakaan. Pada sisi lain, semua kegiatan perpustakaan harus dicatat dengan tertib dalam record sebagai bahan laporan. Hal itu harus dilengkapi data yang benar, nyata, dan reliable tentang jumlah koleksi yang dipinjam atau dipakai. Dalam masyarakat tersebut selanjutnya diamati dan dirasakan ada perubahan kea rah yang lebih atau makin baik (positif) dalam sikap, pola pikir, ucapan dan perilaku. Sikap bijak (wise) orang yang mencerminkan kematangan dan kedewasaan dalam pikiran dan perlaku, bukan sekedar bertambah umur. Wujud yang nyata adalah dalam mengambil keputusan yang tepat dan dapat dilaksanakan bagi seseorang atau pemimpin yang tepat waktu, tepat materi dan tepat sasaran serta dapat dilaksanakan seperti yang diinginkan.


Yang dimaksud dengan pembinaan sumber daya financial atau keuangan adalah mengupayakan agar kebutuhan biaya untuk operasional dan pengembangan perpustakaan tersedia memadai. Tanpa itu makaperpustakaan akan stagnan, mandeg atau bahkan mundur. Biaya bukanlah satu-satunya masalah yang dihadapi oleh pengelola perpustakaan desa. Namun, berbagain sumber mungkin dapat digali agar perpustakaan tetap eksis. Pada dasarnya perpustakaan desa adalah hasil swadaya dan swasembaga. Oleh sebab itu sumber dan kelangsungan pendanaan mestinya sudah diperhitungkan masak-masak sejak awal. Sementara pemerintah desa dan pemerintah daerah diharapkan memberikan dukungan sehingga ada kontinuitas. Pengelola perpustakaan desa mempunyai greget dan semangat dalam memberikan layanan. Namun petugas yang bersangkutan juga tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu kelangsungan layanan perpustakaan tergantung pada para petugas.

Prinsip pendanaan perpustakaan adalah kecukupan dan berkelanjutan. Artinya, adalah pengalokasian sumber anggaran yang memungkinkan seluruh fungsi perpustakaan dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya, lancer, meningkat, dan berkelanjutan. Sumber daya financial adalah alokasi anggaran biaya untuk operasional agar perpustakaan desa dapat beroperasi melayani pemakai dan pengembangan aspek-aspek lain yang diperlukan agar dapat meningkat. Pembinaan sumber daya keuangan itu mencakup :
1. Alokasi anggaran y6ang pasti, misalnya dari anggaran pendapatan dan belanja daerah, dan anggaran pemerintahan desa.
2. Menggali dan mengembangkan sumber-sumber lain yang sah dan tidak mengikat, misalnya menyelenggarakan kegiatan dan melibatkan masyarakat sambil memungut biaya.
3. Mencari donator dan penyandang dana dari masyarakat dan swasta. Terutama adalah tokoh dan pemuka masyarakat dan pengusaha yang peduli dengan pendidikan dan perpustakaan.
4. Memanfaatkan semua dana dengan benar menurut prosedur administarsi keuangan secara efektif dan efisien.
5. Menerapkan sistem transparansi sesuai dengan adminsitarsi dan tetap menjaga kerahasiaan menurut peraturan keuangan yang berlaku.
6. Mengawasi/ mengontrol dan mengaudit atas penggunaannya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti pemborosan, kebocoran, penyalahgunaan, penyimpangan, dan kerugian yang dapat berakibat kepada gagalnya pencapaian misi perpustakaan desa. Pengawasan dilakukan oleh atasan langsung (kepala desa), masyarakat, dan instansi fungsional. Dalam pengertian, dana yang digunakan bersumber dari anggaran pendapat pemerintah.
7. Menjaga kepercayaan dan menghindari prasangka negatif dari pihak lain dalam mengelola anggaran, baik internal maupun eksternal.
8. Membuat laporan pertanggungjawaban keuangan secara periodic kapada pihak yang berwenang/berkepentingan.



TANTANGAN

Kehidupan desa yang aman, tenteram, rukun dan bersatu ditandai dengan pelaksanaan adat-istiadat, sifat gotong royong dan pemahaman nilai-nilai budaya dan religius. Berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi komunikasi, maka masyarakat desa sudah banyak berubah. Perubahan itu tidak saja terbatas pada hal yang positif, tetapi ada juga yang terpengaruh hal-hal yang mungkin dianggap negative, seperti mengesampingkan budaya lokal/sendiri dan menerima budaya asing tanpa proses dan penyesuaian. Budaya yang sudah terjangkau atau terinfiltrasi budaya asing yang kadang kurang cocok sehingga perlu waktu pengadaptasian. Sebagian dari gaya hidup, keterbatasan bidang social ekonomi, dan latar belakang pendidikan yang kurang memadai menjadi masalah. Masalah yang mudah dijumpai antara lain kenakalan remaja, tawuran, penyalahgunaan obat terlarang, perilaku seks menyimpang. Dan perbuatan merugikan orang lain serta membuat orang lain merasa terganggu/tidak senang. Semua itu telah terjadi dalam batas-batas tertentu di kehidupan masyarakat desa.

Dalam kaitannya dengan perpustakaan masalah itu dapat dipotret atau dipetakan sebagai berikut :

1. Pada saat kita melihat dan memperhatikan perkembangan dan pertumbuhan atas keberadaan dan eksistensi perpustakaan desa dewasa ini kiranya masih berhadapan dengan masalah internal dan eksternal.
2. Pemanfaatan perpustakaan, secara langsung atau tidak, berkaitan dengan tingkat pendidikan, pola pikir (mind set), dan daya pikir masyarakat. Oleh sebab itu bagi masyarakat yang demikian bisa jadi kurang dapat merespons atas keberadaan dan layanan perpustakaan.
3. Ketersediaan bahan bacaan dalam berbagai jenis, kualitas dan jumlah masih terasa asal sumber daya untuk pengadaan, kurangnya jumlah penerbitan yang beredar dan ditelusuri untuk diadakan, dan agak sulit berkembang. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor, seperti keterbatasan dalam beberapa hal/aspeknya.
4. Fasilitas perpustakaan, perpustakaan desa sebagai pendukung penyelenggaraan masih terbatas. Meskipun hal itu bukan prinsip dan masyarakat dapat saja meminjam dan membaca di rumah sendiri. Namun pada saat-saat tertentu mereka kepingin berkumpul, berdiskusi dan berdialog sehingga membutuhkan fasilitas yang lumayan baik atau memadai.
5. Kegemaran, kebiasaan dan budaya baca pada masyarakat masih perlu ditingkatkan. Masyarakat masih terbatas dengan budaya oral, lisan dan bercerita. Meskipun hal itu juga baik, minimal untuk menjaga komunikasi dengan tetangga dan masyarakat di sekitarnya. Namun, dalam era informasi sekarang ini, budaya baca tulis harus dikembangkan. Mereka sudah terkondisikan dengan kebiasaan ngobrol (ngomong) dan membuang waktu untuk hal-hal yang kurang produktif. Untuk mengubah budaya itu bukan pekerjaan yang mudah dan waktu singkat. Upaya itu perlu proses, waktu dan usaha keras serta kesabaran.
6. Kebiasaan santai, malas, suka berkumpul tanpa arah/tujuan masih mewarnai kehidupan kebanyakan masyarakat desa. Mereka kurang tertarik dengan sikap disiplin, waktu. Hal itu demi sedikit harus diubah tanpa menimbulkan gejolak, karena mereka akan resisten terhadap perubahan yang sangat drastic.
7. Daya beli masyarakat yang masih lemah tentu tidak menguntungkan bagi penjual buku kebutuhan tentang buku belum hal yang sangat utama bagi sebagian masyarakat, mereka masih berkutat dengan masalah masyarakat, mereka masih berkutat dengan masalah perut (kebutuhan ekonomi dasar).
8. Pengaruh tayangan televise dan acara hiburan yang murah, program televisi dengan berbagai acara yang ditayangkan selama 24 jam penuh. Apabila tidak disiasati dengan arif dan bijak, merupakan masalah bagi berkembangnya perpustakaan desa. Penduduk desa labih suka menikmati acara televise yang bernuansa hiburan, dibandingkan membaca dan belajar yang menyita perhatian dan konsentrasi.
9. Sarana umum dan sarana social di desa biasanya sangat sederhana dan terbatas. Hal itu sebaiknya tidak mengurangi makna dan fungsi perpustakaan desa yang juga bermanfaat sebagai sarana umum dan sarana social dalam membentuk kebiasaan dan budaya membaca dan belajar.
10. Penanaman dan pembelajaran nilai-nilai agama untuk menambah keyakinan mereka, sedangkan dan norma-norma social dimaksudkan agar kehidupan social masyarakat tetap terpelihara baik.

Comments